Nyongkolan adalah sebuah tradisi lokal di Lombok, dimana
sepasang pengantin diiringi beramai-ramai seperti seorang raja menuju rumah /
kediaman pengantin perempuan, yang dilakukan dengan berjalan kaki di jalan raya
(sebelumnya menggunakan kendaraan dari rumah pengantin laki-laki sampai
setengah perjalan) menuju rumah pengantin perempuan. Iring-iringan ini selalu diramaikan
dengan alat musik tradisional yang dijuluki dengan "gendang
beleq" dan kesenian khas suku Sasak. Tujuannya agar para warga sekitar
mengetahui bahwa pasangan pengantin tersebut sudah menjadi sepasang suami istri
yang sah.
Saat pelaksanaan tradisi nyongkolan ini, pasangan pengantin
didampingi oleh dedare dedare (perempuan) dan terune terune (laki-laki)
sasak, yang juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka
adat. Peserta iring-iringan dalam nyongkolan tersebut haruslah mengenakan
pakaian khas adat suku Sasak. Bagi pengiring perempuan atau dedare sasak
menggunakan baju Lambung dan kebaya, kereng nine / kain songket (sarung khas
Lombok), sanggul (penghias kepala), anting dan aksesoris lainnya. Bagi
pengiring laki-laki mengenakan baju model jas berwarna hitam (atau variasi)
yang dijuluki dengan tegodek nongkeq, kereng selewoq poto (sarung tenun panjang
khas Lombok) dan sapuk (ikat kepala khas Lombok). Dengan adanya tradisi
nyongkolan ini merupakan wujud dari sebuah kebudayaan yang diwariskan oleh
nenek moyang terdahulu yang harus dilestarikan oleh masyarakat Sasak.
Bapak
Usman sebagai petua di daerah labuapi mengatakan bahwa “seiring perkembangan
zaman, nyongkolan kini diiringi oleh kecimol (kelompok drum yang dimodifikasi
dengan lagu-lagu modern), gendang beleq atau ale-ale. Alat musik yang asli
gendang beleq mulai di tinggalkan oleh masyarakat Lombok, sebagian masyarakat
lebih senang memakai kecimol karena tarifnya lebih murah dan lebih bervariatif
ketimbang alat musik asli gendang beleq” hal ini memang benar terjadi pada
perayaan nyongkolan saat ini.
Bapak Azhar sebagai tokoh adat di
daerah gerung juga berpendapat bahwa “Tradisi nyongkolan yang turun temurun
diselenggarakan oleh masyarakat asli Lombok sudah mengalami pergeseran nilai
termasuk tata caranya. Karena banyaknya aksi-aksi brutal yang dilakukan para
pengiring pada saat nyongkolan, seperti mabuk-mabukan, berjoget yang tidak
sewajarnya, menimbulkan konflik-konflik yang seringkali menimbulkan keributan
hingga perkelahian. Kejadian ini terjadi sudah tentu menyebabkan
terjadinya kemacetan yang panjang. Meski pihak kepolisian tetap ambil andil
dalam mengatur lalu lintas, namun kemacetan tetap terjadi. Hal seperti ini
harus ditinggalkan karena sama sekali tidak mencerminkan makna dari tradisi
nyongkolan”. Hal ini
sangat tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, juga sangat mengurangi
etisnya prosesi nyongkolan tersebut.
Untuk itu perlunya koordinasi dan himbauan lebih lanjut dan
jelas dari pemerintah daerah dengan tokoh adat, tokoh agama, pemaku adat dan masyarakat
untuk dapat meminimalisir masalah yang ditimbulkan. Mulai dari sekarang
kegiatan nyongkolan tidak boleh menggunakan kecimol dan kembali menggunakan
musik gendang beleq. Jika musik gendang beleq digunakan kembali oleh seluruh
masyarakat Sasak maka kemungkinan besar tradisi nyongkolan akan berjalan dengan
lancar dan kemacetanpun tidak akan terlalu parah. Tradisi nyongkolan akan
terlihat hidup kembali dengan gaya dan ciri khas yang sebenarnya yang bisa
dikenali oleh masyarakat luar akan keasliannya.
Namun, pendapat yang dilontarkan oleh Bapak Usman dan Bapak
Azhar kini direspon positif oleh masyarakat ataupun kepala desa setempat. Adat
istiadat nyongkolan ini harus kembali ke bentuk aslinya, oleh sebab itu
kegiatan nyongkolan kembali memakai gendang beleq untuk mengiring pengantin di
seluruh masyarakat Lombok walaupun masih banyak desa yang belum menerapkannya,
namun masyarakat desa selalu akan memperhatikan dan melestarikan adat istiadat
daerah.
Inti dari tradisi ini, pihak pengantin peria datang dengan terhormat dan disambut dengan terhormat pula oleh pihak pengantin wanitanya.
Semoga bermanfaat untuk setiap pengunjung diblog ini π
BalasHapusBaik, terimakasih. Semoga bermanfaat ya
HapusBaguussssss ππ
BalasHapusTerimakasih :)
HapusBagaimana untuk pengiring laki2 di Gerung, apakah masih mengenakan kris atau tidak ketika pengiringan berlangsung??
BalasHapusBukan hanya di Gerung, tetapi seluruh daerah Lombok yang masih melestarikan tradisi adat nyongkolan, menurut sy tetap mengenakan kris
HapusBagaimana untuk pengiring laki2 di Gerung, apakah masih mengenakan kris atau tidak ketika pengiringan berlangsung??
BalasHapusapa tindakan pertama anda ketika adat nyongkolan ini turun kejalan?dan mengganggu lalu lintas?!
BalasHapusTradisi ini memang diadakan dijalan, tetapi alangkah lebih baik apabila tradisi ini dilakukan dengan tertib sehingga tidak mengganggu lalu lintas.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusdisaat sy milintas disuatu daerah,kok masih ada suatu adat tp di barengi dengan minum atau mabuk2kan ? apa hal itu dibenarkan dalam adat?
BalasHapusHal itu sudah sangat jelas dilarang dalam adat istiadat kami, tetapi ada saja oknum yang tidak mengenal nilai moral dari tradisi kami.
Hapusadat ini dilakukan ketika orang nikah aja? atau ada acara tertentu lainnya?
BalasHapusYa, tradisi adat nyongkolan ini khusus diselenggarakan pada saat perayaan pernikahan di daerah Lombok.
Hapusternyata begini ya nyongkolan sebenarnya. Sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih :)
HapusSangat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai tradisi nyongkolan tsb, krn meskipun sya org Sasak tetapi sya tidak begitu mengetahui detail dri tradisi ini.
BalasHapusTerimakasih, semoga bermanfaat :)
HapusTerimakasih informasinya π
BalasHapusTerimakasih kembali :)
HapusIlmu yang sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih :)
HapusTerimakasih infonya, semoga tulisannya bermanfaat
BalasHapusBaik, terimakasih :)
HapusArtikel yang bagus
BalasHapusSemoga bermanfaat
HapusKata-katanya yg dibawah keren
BalasHapusLestarikan terus budaya Sasak!ππΌ
BalasHapussangat bermanfaatπ
BalasHapushebat postingannya, bermanfaat dan inspiratif banget…
BalasHapusQ ikut begibung donk
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat dan menarik
BalasHapuslestarikan kebudayaan sasak
BalasHapus