Senin, 25 Desember 2017

Tradisi Adat Nyongkolan Khas Sasak

Nyongkolan adalah sebuah tradisi lokal di Lombok, dimana sepasang pengantin diiringi beramai-ramai seperti seorang raja menuju rumah / kediaman pengantin perempuan, yang dilakukan dengan berjalan kaki di jalan raya (sebelumnya menggunakan kendaraan dari rumah pengantin laki-laki sampai setengah perjalan) menuju rumah pengantin perempuan. Iring-iringan ini selalu diramaikan dengan alat musik tradisional  yang dijuluki dengan  "gendang beleq" dan kesenian khas suku Sasak. Tujuannya agar para warga sekitar mengetahui bahwa pasangan pengantin tersebut sudah menjadi sepasang suami istri yang sah.
Saat pelaksanaan tradisi nyongkolan ini, pasangan pengantin didampingi oleh dedare dedare (perempuan)  dan terune terune (laki-laki) sasak, yang juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka adat. Peserta iring-iringan dalam nyongkolan tersebut haruslah mengenakan pakaian khas adat suku Sasak. Bagi pengiring perempuan atau dedare sasak menggunakan baju Lambung dan kebaya, kereng nine / kain songket (sarung khas Lombok), sanggul (penghias kepala), anting dan aksesoris lainnya. Bagi pengiring laki-laki mengenakan baju model jas berwarna hitam (atau variasi) yang dijuluki dengan tegodek nongkeq, kereng selewoq poto (sarung tenun panjang khas Lombok) dan sapuk (ikat kepala khas Lombok). Dengan adanya tradisi nyongkolan ini merupakan wujud dari sebuah kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu yang harus dilestarikan oleh masyarakat Sasak.
Bapak Usman sebagai petua di daerah labuapi mengatakan bahwa “seiring perkembangan zaman, nyongkolan kini diiringi oleh kecimol (kelompok drum yang dimodifikasi dengan lagu-lagu modern), gendang beleq atau ale-ale. Alat musik yang asli gendang beleq mulai di tinggalkan oleh masyarakat Lombok, sebagian masyarakat lebih senang memakai kecimol karena tarifnya lebih murah dan lebih bervariatif ketimbang alat musik asli gendang beleq” hal ini memang benar terjadi pada perayaan nyongkolan saat ini.
Bapak Azhar sebagai tokoh adat di daerah gerung juga berpendapat bahwa “Tradisi nyongkolan yang turun temurun diselenggarakan oleh masyarakat asli Lombok sudah mengalami pergeseran nilai termasuk tata caranya. Karena banyaknya aksi-aksi brutal yang dilakukan para pengiring pada saat nyongkolan, seperti mabuk-mabukan, berjoget yang tidak sewajarnya, menimbulkan konflik-konflik yang seringkali menimbulkan keributan hingga perkelahian. Kejadian ini terjadi sudah tentu menyebabkan terjadinya kemacetan yang panjang. Meski pihak kepolisian tetap ambil andil dalam mengatur lalu lintas, namun kemacetan tetap terjadi. Hal seperti ini harus ditinggalkan karena sama sekali tidak mencerminkan makna dari tradisi nyongkolan”. Hal ini sangat tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, juga sangat mengurangi etisnya prosesi nyongkolan tersebut.
Untuk itu perlunya koordinasi dan himbauan lebih lanjut dan jelas dari pemerintah daerah dengan tokoh adat, tokoh agama, pemaku adat dan masyarakat untuk dapat meminimalisir masalah yang ditimbulkan. Mulai dari sekarang kegiatan nyongkolan tidak boleh menggunakan kecimol dan kembali menggunakan musik gendang beleq. Jika musik gendang beleq digunakan kembali oleh seluruh masyarakat Sasak maka kemungkinan besar tradisi nyongkolan akan berjalan dengan lancar dan kemacetanpun tidak akan terlalu parah. Tradisi nyongkolan akan terlihat hidup kembali dengan gaya dan ciri khas yang sebenarnya yang bisa dikenali oleh masyarakat luar akan keasliannya.

Namun, pendapat yang dilontarkan oleh Bapak Usman dan Bapak Azhar kini direspon positif oleh masyarakat ataupun kepala desa setempat. Adat istiadat nyongkolan ini harus kembali ke bentuk aslinya, oleh sebab itu kegiatan nyongkolan kembali memakai gendang beleq untuk mengiring pengantin di seluruh masyarakat Lombok walaupun masih banyak desa yang belum menerapkannya, namun masyarakat desa selalu akan memperhatikan dan melestarikan adat istiadat daerah.
Inti dari tradisi ini, pihak pengantin peria datang dengan terhormat dan disambut dengan terhormat pula oleh pihak pengantin wanitanya.

33 komentar:

  1. Semoga bermanfaat untuk setiap pengunjung diblog ini πŸ™

    BalasHapus
  2. Bagaimana untuk pengiring laki2 di Gerung, apakah masih mengenakan kris atau tidak ketika pengiringan berlangsung??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hanya di Gerung, tetapi seluruh daerah Lombok yang masih melestarikan tradisi adat nyongkolan, menurut sy tetap mengenakan kris

      Hapus
  3. Bagaimana untuk pengiring laki2 di Gerung, apakah masih mengenakan kris atau tidak ketika pengiringan berlangsung??

    BalasHapus
  4. apa tindakan pertama anda ketika adat nyongkolan ini turun kejalan?dan mengganggu lalu lintas?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tradisi ini memang diadakan dijalan, tetapi alangkah lebih baik apabila tradisi ini dilakukan dengan tertib sehingga tidak mengganggu lalu lintas.

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. disaat sy milintas disuatu daerah,kok masih ada suatu adat tp di barengi dengan minum atau mabuk2kan ? apa hal itu dibenarkan dalam adat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal itu sudah sangat jelas dilarang dalam adat istiadat kami, tetapi ada saja oknum yang tidak mengenal nilai moral dari tradisi kami.

      Hapus
  7. adat ini dilakukan ketika orang nikah aja? atau ada acara tertentu lainnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, tradisi adat nyongkolan ini khusus diselenggarakan pada saat perayaan pernikahan di daerah Lombok.

      Hapus
  8. ternyata begini ya nyongkolan sebenarnya. Sangat bermanfaat

    BalasHapus
  9. Sangat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai tradisi nyongkolan tsb, krn meskipun sya org Sasak tetapi sya tidak begitu mengetahui detail dri tradisi ini.

    BalasHapus
  10. Terimakasih informasinya 😊

    BalasHapus
  11. Terimakasih infonya, semoga tulisannya bermanfaat

    BalasHapus
  12. Lestarikan terus budaya Sasak!πŸ‘ŒπŸΌ

    BalasHapus
  13. hebat postingannya, bermanfaat dan inspiratif banget…

    BalasHapus
  14. Artikelnya sangat bermanfaat dan menarik

    BalasHapus